PENGUKURAN CURAH HUJAN
(Laporan Praktikum Teknologi Konservasi Tanah dan Air)
I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari hujan
memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga kelangsungan hidup makhluk
hidup di bumi karena hujan dapat memenuhi
kebutuhan air. Namun kadang kala hujan yang turun ternyata melebihi daya
tampung alam sehingga dapat mengakibatkan banjir. Berbagai cara digunakan untuk
mengatasi bencana banjir yang diakibatkan oleh tingginya intensitas curah
hujan. Diantaranya adalah memperbaiki irigasi, menambah titik-titik serapan
air. Namun kadang kala cara yang digunakan untuk mengatasi banjir belum cukup
untuk meminimalkan kerusakan yang diakibatkan oleh hujan. Meskipun saluran
irigasi dan daerah resapan sudah luas, banjir masih saja terjadi. Untuk itu
perlu dilakukan upaya evakuasi sebelum terjadinya banjir tersebut. Untuk itu
diperlukan sebuah alat yang mampu memberikan informasi ketinggian curah hujan
yang terjadi.
Menganalisa data hujan digunakan untuk
mengetahui jeluknya ( rainfall depth ), jujuh hujan (rainfall
duration) dan kelebatan hujan ( rainfall
intensity ). Sifat-sifat hujan tersebut penting diketahui karena ia
berperan atas terjadinya ruoff (limpasan),erosi, dan dapat menentukan dan
berpengaruh pada peristiwa dan kejadian alam, peristiwa boiligik, dan
lain-lainnya. Pendataan hujan, seperti pendataan unsur-unsur iklim lainnnya
diperlakukan untuk digunakan dalam hampir setiap perencanaan di bidang
pertanian, pembangunan jembatan, gedung dan lain-lain. Pendataan hujan dan
unsur iklim lainnya sering diperlukan untuk menunjang penelitian yang berkenaan
dengan alam benar
(Muliantara, A.,dkk., 2015).
Data jumlah curah hujan (CH) rata -rata untuk suatu daerah
tangkapan air (catchment area) atau
daerah aliran sungai (DAS) merupakan informasi yang sangat diperlukan oleh
pakar bidang hidrologi. Dalam bidang pertanian data CH sangat berguna, misalnya
untuk pengaturan air irigasi , mengetahui neraca air lahan, mengetahui besarnya
aliran permukaan (run off).
Untuk dapat mewakili besarnya CH di suatu wilayah/daerah
diperlukan penakar CH dalam jumlah yang c ukup. Semakin banyak penakar dipasang
di lapangan diharapkan dapat diketahui besarnya rata -rata CH yang menunjukkan
besarnya CH yang terjadi di daerah tersebut. Disamping itu juga diketahui
variasi CH di suatu titik pengamatan
(Mahbub, M., 2010).
1.2 Tujuan praktikum
Tujuan dari praktikm ini dilaksanakan
sebgai berikut:
1.
Mengetahui pengukuran perbandingan curah hujan
dengan berat air dan volume air.
2.
Mengerahui kaitan curah hujan dengan terjadinya erosi.
3.
Mengetahui macam-macam erosi berdasarkan bentuknya.
II.
METODOLOGI PERCOBAAN
2.1 Alat dan Bahan
Alat yang
digunakan dalam praktikum ini adalah botol plastik, corong, gelas ukur,
timbangan, jangka sorong, shower (simulasi hujan) dan stopwatch. Sedangkan
bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air.
3.2
Prosedur Kerja
Adapun
prosedur kerja pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1.
Disiapkan alat– lat yang akan digunakan.
2.
Diletakkan corong diatas botol plastik kemudian dinyalakan
shower untuk memulai simulasi hujan.
3.
Dihitung waktu menggunakan stopwatch dengan lama simulasi 5
detik.
4.
Ditimbang air yang tertampung dalam botol plastik
5.
Diukur volumenya menggunakan gelas ukur.
6.
Diukur pula diameter corong menggunakan jangka sorong untuk
mengetahui luas penampang corong.
7.
Dihitung curah hujan menggunakan rumus
Curah hujan 
III.
HASIL PENGAMATAN DAN
PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan
pada praktikum kali ini adalah:
No
|
Ulangan
|
Bobot air
(g)
|
Gelas Ukur (ml)
|
Luas Penampang (cm2)
|
CH (Bobot Air)
(g/ cm2)
|
CH (Gelas Ukur)
(ml/ cm2)
|
1.
|
U1
|
21,4
|
22
|
105,79
|
0,20
|
0,21
|
2.
|
U2
|
30,9
|
31
|
105,79
|
0,29
|
0,29
|
3.
|
U3
|
30,3
|
31
|
105,79
|
0,28
|
0,29
|
3.2 Pembahasan
Percobaan
pada praktikum kali ini yaitu dilakukan perbandingan antara perhitungan
curah hujan dengan menggunakan bobot air dan menggunakan volume air. Curah hujan dengan
perhitungan menggunakan bobot air diperoleh dari perhitungan hasil bobot air (g)
dibagi dengan luas penampang (cm2). Sedangkan curah hujan dengan perhitungan menggunakan volume air diperoleh dari
perhitungan hasil volume air (ml) dibagi dengan luas penampang (cm2).
Satuan
curah hujan menurut SI adalah milimeter, yang merupakan penyingkatan dari liter
per meter persegi. Namun dalam pembahasan ini dibedakan satuannya
sehingga dapat mempermudah pembaca dalam menganalisis perhitungan dari curah
hujan menggunakan kedua perbandingan tersebut.
Hasil
pengamatan curah hujan dengan perhitungan menggunakan bobot
air pada
ulangan pertama bobot air sebesar 21,4 g sehingga curah hujan yang diperoleh
yaitu 0,20 g/cm2. Untuk ulangan kedua bobot
air sebesar 30,9 g sehingga curah hujan yang diperoleh yaitu 0,29
g/cm2. Pada ulangan ketiga bobot
air sebesar
30,3 g sehingga curah
hujan yang diperoleh yaitu 0,28 g/cm2. Sehingga
diperoleh rata-rata curah hujan (bobot air) yaitu sebesar 0,26 g/cm2.
Hasil
pengamatan curah hujan dengan perhitungan menggunakan volume air yang
tertampung dengan gelas ukur pada ulangan pertama sebesar 22 ml dengan curah
hujan sebesar 0,21 ml/cm2. Untuk ulangan yang
kedua diperoleh volume air yang tertampung dengan gelas ukur sebesar 31 ml
dengan curah hujan sebesar 0,29 ml/cm2. Untuk ulangan yang
ketiga diperoleh volume air yang tertampung dengan gelas ukur sebesar 31 ml dengan curah hujan sebesar 0,29
ml/cm2. Sehingga
diperoleh rata-rata curah hujan (gelas ukur) sebesar 0,26 ml/cm2.
Hujan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap
erosi di Indonesia, dalam hal ini besarnya curah hujan, intensitas, dan
distribusi hujan terhadap tanah, Jumlah dan kecepatan aliran permukaan dan
kerusakan erosi (Arsyad, 1989). Air hujan yang menjadi air limpasan permukaan
adalah unsur utama penyebab terjadinya erosi.
Dari pengukuran curah hujan menngunakan bobot air dan menggunakan volume
air tenyata tidak ada perbedaan nilai antara kedua pengukuran tersebut. Hanya
berselisih sangat sedikit dikarenakan pembulatan nilai. Artinya kedua
pengukuran tersebut sangat presisi sehingga kedua pengukuran tersebut apabila
digunakan dalam penerapan sehari-hari dapat menggunakan salah satu dari
pengukuran tersebut atau dapat menggunakan dua pengukuran tersebut sesui
kepercayaan pemakai.
Curah hujan merupakan suatu unsur iklim yang sangat
berkaitan dengan erosi. Air hujan yang jatuh ke bumi akan mengakibatkan
pengikisan terhadap tanah yang dilaluinya sehingga menyebabkan terjadinya erosi
pada kemiringan lahan tertentu.
Erosi tanah saat hujan merupakan fenomena yang kompleks
yang dihasilkan dari pelepasan dan pengangkutan tanah akibat percikan hujan,
penyimpanan (storage), aliran
permukaan dan infiltrasi (Ellison, 1945). Hal penting dari proses ini terkait
dengan sejumlah faktor, yaitu intensitas curah hujan, laju infiltrasi, dan
limpasan permukaan, sifat tanah dan kondisi permukaan tanah seperti kelembaban
tanah, kekasaran tanah dan panjang lereng serta kecuraman lahan. Prediksi erosi
tanah didasarkan pada model yang berasal dari pengukuran kehilangan tanah dari
limpasan alam atau plot alat pengukur hujan, meliputi lebar spektrum tanah dan
kondisi topografi. (Romkens
dkk., 2002).
Berdasarkan bentuknya erosi dibedakan menjadi 7 tipe,
diantaranya yaitu:
a.
Erosi percikan (splash erosion)
adalah terlepas dan terlemparnya partikelpartikel tanah dari massa tanah akibat
pukulan butiran air hujan secara langsung
b.
Erosi aliran permukaan (overland flow erosion) akan terjadi
hanya dan jika intensitas dan/atau lamanya hujan melebihi kapasitas infiltrasi
atau kapasitas simpan air tanah
c. Erosi alur (rill erosion)
adalah pengelupasan yang diikuti dengan pengangkutan partikel-partikel tanah
oleh aliran air larian yang terkonsentrasi di dalam saluran-saluran air
d.
Erosi parit/selokan (gully erosion) membentuk jajaran parit
yang lebih dalam dan lebar dan merupakan tingkat lanjutan dari erosi alur
e.
Erosi tebing sungai (streambank erosion) adalah erosi yang
terjadi akibat pengikisan tebing oleh air yang mengalir dari bagian atas tebing
atau oleh terjangan arus sungai yang kuat terutama pada tikungan-tikungan
f.
Erosi internal (internal or subsurface erosion) adalah
proses terangkutnya partikel-partikel tanah ke bawah masuk ke celah-celah atau
pori-pori akibat adanya aliran bawah permukaan
g. Tanah longsor (land slide)
merupakan bentuk erosi dimana pengangkutan atau gerakan massa tanah yang
terjadi pada suatu saat dalam volume yang relatif besar (Suripin, 2004).
Curah
hujan adalah salah satu unsur iklim yang besar perannya terhadap kejadian longsor
dan erosi. Air hujan yang menjadi air limpasan permukaan adalah
unsur utama penyebab terjadinya erosi. Hujan dengan curahan dan intensitas yang
tinggi, misalnya 50 mm dalam waktu singkat (<1 jam), lebih berpotensi
menyebabkan erosi dibanding hujan dengan curahan yang sama namun dalam waktu
yang lebih lama (>1 jam). Intensitas hujan menentukan besar kecilnya erosi (Arsyad,
1989).
Ombrometer
adalah alat pengukur curah hujan yang umumnya dinamakan penakar hujan. Alat ini
dipasang di tempat terbuka, sehingga air hujan akan diterima langsung oleh alat
ini. Satuan yang digunakan adalah milimeter (mm) dan ketelitian pembacaannya
sampai dengan 0.1 mm. Pengukur hujan (ombrometer) dalam standar Jumlah air
hujan diukur menggunakan pengukur hujan atau ombrometer. Ia dinyatakan sebagai
kedalaman air yang terkumpul pada permukaan datar, dan diukur kurang lebih 0.25 mm.
Satuan curah hujan menurut SI adalah milimeter, yang merupakan penyingkatan
dari liter per meter persegi (Wirawan,
2008).
IV.
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai
berikut:
1.
Perbandingan rata-rata
pengukuran curah hujan menggunakan bobot air dan volume air yaitu sama dengan
nilai 0,26
mm
2.
Curah hujan mempengaruhi terjadinya erosi, jika curah hujan
tinggi dan langsung diterima oleh tanah maka akan terjadi erosi jika
tanah tersebut rentan erosi.
3.
Macam-macam erosi berdasarkan bentuknya yaitu, erosi percik,
erosi lembar, erosi alur dan erosi parit, tebing, internal, dan longsor.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah
dan Air. IPB Press. Bogor
Ellison, W.D. 1945. Some Effects
of Raindrops and Surface Flow on Soil Erosion and Infiltrasion. Trans. Am.
Geophys. Union 26, 415-429.
Mahbub, M., 2010. Penuntun
Praktikum Agrohidrologi. Unlam. Banjarmasin.
Muliantara, Agus., Ngurah Agus Sanjaya ER, I Made Widiartha. 2105. Perancangan Alat Ukur Ketinggian Curah Hujan
Otomatis Berbasis Mikrokontroler. Jurnal Ilmiah Ilmu Komputer Universitas
Udayana Vol. 8, No. 2, September 2015 hal 31-32.
Romkens, M. J. M., dkk. 2002. Soil
Erosion Under Different Rainfall Intensities, Surface Roghness and Soil Water
Regimes. Catena 46, 103-123.
Suripin. 2004. Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan.
ANDI Offset Yogyakarta.
Wirawan. 2008. Penuntun Klimatologi Dasar. Erlangga. Jakarta.
LAMPIRAN
GAMBAR
No.
|
Foto
|
Keterangan
|
1.
|
![]() |
Melakukan
penyemprotan air menggunakan selang selama 7 detik dengan 3 kali ulangan.
|
2.
|
![]() |
Menimbang
bobot air yang didapatkan pada ulangan 1 sebesar 21,4 gr.
|
3.
|
![]() |
Menimbang
bobot air yang didapatkan pada ulangan 2 sebesar 30,9 gr.
|
4.
|
![]() |
Menimbang
bobot air yang didapatkan pada ulangan 3 sebesar 30,3 gr.
|
5.
|
![]() |
Pengukuran masing-masing ulangan 1,2 dan3 curah
hujan di dalam gelas ukur sebesar 22, 31,31 ml.
|
PERHITUNGAN
Diketahui :
Diameter
Penampang Corong = 11,61 cm
Jari-jari (r) = 5,805
Berat Gelas = 3,14
gram/ml
Luas gelas+air (U1) =
21,4 gram/ml
Luas gelas+air (U2) =
30,9 gram/ml
Luas gelas+air (U3) =
30,3 gram/ml
Volume 1 = 22 ml
Volume 2 = 31 ml
Volume 3 = 31 ml
Ditanya : Curah Hujan?
Jawab :
Luas
Penampang =
=
3,14 x 5,805
2
=
105,79
cm
a. Berdasarkan
Volume
Curah Hujan(U1) = 
=
= 0,21 ml/cm2
Curah Hujan(U2) = 
=
= 0,29 ml/cm2
Curah Hujan(U3) = 
=
= 0,29 ml/cm2
Rata-rata= U1+U2+U3/3= 0,26 ml/cm2
b. Berdasarkan
Berat
Curah Hujan(U1) = 
=
= 0,20 g/cm2
Curah Hujan(U2) = 
=
= 0,29 g/cm2
Curah Hujan(U3) = 
=
= 0,28 g/cm2
Rata-rata= U1+U2+U3/3= 0,26 g/cm2





Comments
Post a Comment