PENGENALAN ALAT APLIKASI INSEKTISIDA
(Laporan
Praktikum Bioekologi Hama Tumbuhan)
Oleh
Muhammad Asifa
Ussudur
1514121169
Kelompok 10

JURUSAN
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMPUNG
2016
I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saat ini berbagai macam peralatan canggih dan
modern dapat kita jumpai untuk untuk mempermudahkan pekerjaan sehari-hari salah
satu contohnya yaitu alat pertanian. Alat pertanian saat ini berbagai macam
tipe dapat kita jumpai baik secara langsung maupun tidak langsung. Berbagai
tipe dan kemampuan dari setiap alat dapat berbeda-beda sesuai dengan
penggunaannya dan aplikasinya untuk hal seperti apa.
Alat-alat pertanian sangat beragam dalam hal
pengaplikasiannya. Salah satu contohnya yaitu alat aplikasi untuk insektisida.
Alat ini dapat mempermudah manusia untuk melakukan pengendalian terhadap hama
maupun penyakit. Pengendalian hama tersebut dapat dilakukan dengan berbagai macam alat salah satunya yaitu dengan
sprayer. Sprayer dapat digunakan untuk
menyemprot hama dengan mudah dan merata.
Dalam bidang pertanian sangat dibutuhkan untuk
menganal berbagai macam alat yang dapat digunakan untuk pengendalian hama
tanaman. Berbagai macam alat yang diperkenalkan dalam praktikum ini yaitu mist duster, swing fog, automatic sprayer,
dan semi automatic sprayer. apa dan bagaimana penjelasan alat tersebut maka
diperkenalkan alat ini dalal praktikum.
1.2
Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum
dari kali ini adalah sebagai berikut :
1.
Untuk mengetahui fungsi dari alat aplikasi
2.
Mengetahui kelebihan dari masing-masing alat
3.
Mengetahui perbedaan automatic
sprayer dan semi automatic sprayer.
4.
Mengetahui hama sasaran
II. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan
praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
|
No
|
Gambar
|
Keterangan
|
|
1
|
![]() |
Telenomus sp.
parasit
telur
|
|
2
|
![]() |
Rachonotus sp.
Famili : Chalcidoidae
Parasit larva
|
|
3
|
![]() |
Elasmus sp.
Famili : Eulophidae
Parasit larva
|
|
4
|
![]() |
Apanteles sp.
Famili: Braconidae
Parasit telur atau larva instar awal
|
|
5
|
![]() |
Trichogamma sp.
Famili : Trichogrammatidae
Parasit telur
|
3.2
Pembahasan
Organisme yang ditemukan
di alam yang dapat membunuh serangga sekaligus, melemahkan serangga, sehingga
dapat mengakibatkan kematian pada serangga, dan mengurangi fase reproduktif
dari serangga adalah musuh alami. Untuk beberapa
spesies, musuh alami merupakan kekuatan utama yang mengatur dinamika populasi serangga, sehingga penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana
musuh alami dapat mempengaruhi populasi serangga untuk mengestimasi
pengaruhnya. Untuk menjelaskan kepadatan populasi serangga dan memprediksi
terjadinya outbreaks. Dalam pest management program, kita perlu memahami musuh
alami untuk memanipulasinya di lapangan sebagai pengendali hama. Pengendalian
hayati (biological control) adalah taktik pengendalian hama yang melibatkan
manipulasi musuh alami hama yang menguntungkan untuk memperoleh pengurangan
jumlah populasi dan status hama di lapangan.
1.
Rachonotus sp.
Rachonotus. secara
eksklusif merupakan parasitoid pada telur serangga lain). Inang dari Telenomus
spp. kebanyakan adalah Lepidoptera dan Hemiptera, tetapi ada pula yang
diketahui muncul dari telur Diptera dan Neuroptera. Banyak spesies dari Rachonotus sangat potensial secara ekonomi karena perannya dalam menekan populasi
hama secara alami. Selain itu beberapa spesies Rachonotus dilaporkan bersifat fores atau membonceng pada tubuh inang sehingga
memungkinkan keberhasilannya yang tinggi dalam memparasiti telur inangnya yang
baru diletakkan.
2.
Telenomus sp.
Morfologi Telenomus yaitu daur hidupnya merupakan parasit telur penggerek.
Parasitoid meletakkan telur hanya pada 1 telur inang dan berkembang hingga
dewasa pada telur tersebut. Sebutir telur inang cukup untuk menghidupi larva
parasitoid hingga dewasa. Siklus dari telur hingga dewasa barlangsung selama 14
hari. Parasitoid dewasa berumur 2-4 hari. Betina dapat bertelur 20-40 butir
selama hidupnya (Sudarmo, 1995).
3.
Apanteles sp.
Apanteles sp.
memiliki antena lebih panjang dari tubuh, tubuh berwarna hitam dan berwarna
kuning pada bagian abdomen dan kakinya, sedangkan pada sayap terdapat RV
(Reccurent vein). Apanteles dewasa berukuran sangat kecil, panjangnya sekitar
2-3 mm. Ciri-ciri serangga ini adalah:
a.
Serangga dewasa memiliki tubuh berwarna hitam dengan
beberapa warna kuning pada bagian abdomen dan kakinya,
b.
Memilki panjang tubuh sekitar 2,0 s.d 2,5 mm,
c.
Serangga betina memiliki tubuh lebih pendek dan
ovipositor yang berguna untuk menginjeksi telur ke tubuh ulat hama,
d. Telur
berbentuk elongate dan transparan, berukuran panjang 0,3 mm,
e. Telur
akan menetas setelah 3 hari setelah oviposisi (IPM, 2009).
Apanteles betina meletakkan telur ke
dalam tubuh inang (pada stadium telur atau larva instar awal) dengan
ovipositornya, biasanya dalam satu inang akan diletakkan telur sebanyak 16-65
butir. Telur-telur tersebut akan menetas dalam 2-3 hari, dan larva yang muncul
akan segera memakan tubuh inangnya dari dalam (endoparasitoid). Menjelang
berpupa, larva akan keluar dari tubuh inang dan berpupa di luar tubuh inang.
Pupa Apanteles berwarna putih. Dewasa yang muncul hanya hidup beberapa hari
saja. Apanteles yang ditemukan pada saat penelitian menyerang ulat dari anggota
Famili Lymantriidae. Apanteles sp. merupakan musuh alami yang berupa parasitoid
larva. Parasitoid ini
mempunyai kisaran inang yang luas, antara lain Plusia chalcites, Crocidolomia
binatalis, Attacuc atlas, dan Spodoptera litura.
4.
Elasmus sp.
Imago betina lebih besar disbanding imago jantan.
Ukuran tubuh betina kurang lebih 1 – 1,5 mm. abdomen betina memanjang dengan
bagian ujung meruncing. Ujung yang meruncing sangat membantu pada waktu
peletakan telur karena ovipositor parasitoid tidak terlalu panjang. Ovipositor
hanya dijulurkan ketika peletakan telur dan segera ditarik kembali kedalam
abdomen. Panjang ovipositor parasitoid kurang lebih 0,3 mm. Sedangkan imago
jantan biasanya lebih kecil disbanding imago betina. Pajang tubuh imago jantan
kurang lebih 1 mm. imago jantan mudah dibedakan dari imago betina dari bentuk
anthena nya. Anthena imago jantan berbentuk moniliform sedangkan anthena betina
berbentuk clavate. Abdomen jantan terlihat mebulat dengan bagian ujung terlihat
menekuk ke arah ventral. Bentukan ini sangat membantu pada waktu terjadi
kopulasi.
Siklus hidup parasitoid dimulai dari telur yang
dimasukan oleh parasitoid betina ke dalam telur inang dengan bantuan
ovipositor. Telur menetas menjadi larva kurang lebih 1 hari. Larva parasitoid
berwarna kuning, tidak berkaki, berbentuk eruciform dan bersegmen sejumlah 13
buah. Ukuran larva dapat mencapai kurang lebih 1 mm. dalam satu telur penggerek
pucuk terdapat 1 -3 ekor parasitoid, rata – rata 2 ekor parasitoid. Daur hidup
larva adalah 3 – 4 hari. Parasitoid stadia prepupa dan pupa tetap berada dalam
telur inang dan terbungkus kokon yang tipis. Pada stadia prepupa parasitoid
mulai tampak langsing dengan penggentingan di daerah thorax (Endah,
2005).
5.
Trichogamma sp.
Parasitoid telur Trichogramma japonicum memiliki
panjang tubuh 0,75 mm dengan tubuh berwarna hitam dan mata merah yang khas.
Tarsus dengan tiga ruas. Sayap depan sangat lebar dengan rambut-rambut yang
membentuk garis, vena marginal dan stignal membentuk kurva tunggal. Sayap
belakang sempit dan berambut apabila dipelihara pada suhu 30o C dan kelembapan
80% tubuh berwarna cokelat kehitaman, rambut-rambut pada sayap depan panjang,
ovipositor keluar di ujung abdomen. Imago jantan mempunyai antenna berbentuk clavus
dengan 30-40 rambut, tiap rambut panjangnya 3 kali lebar antenna. Ovipositor pada betina hampir satu setengah
kali lebih panjang daripada tibia belakang yang memungkinkan betina untuk
meletakkan telur ke dalam telur yang tertutup bulu. Ukuran telur sekitar
0,31mm. rasio jenis kelamin dewasa jantan dan betina adalah 1:2,3. Parasitoid
ini merupakan parasitoid yang hidup berkelompok. Larva Trichogramma terdiri
dari tiga instar. Setelah mencapai instar 3 (3-4 hari setelah telur
terparasit), telur penggerek batang berubah warnanya menjadi gelap atau hitam.
Larva kemudian berkembang menjadi pupa. Setelah 4-5 hari, pupa berubah menjadi
imago, dan keluar dari telur inang dengan membuat lubang bulat pada kulit
telur. Daur hidup sejak telur diletakkan hingga imago muncul sekitar 8 hari
(Canama, 2002).
Peranannya adalah sebagai musuh alami hama dengan cara
pemarasitan, parasitoid Trichogramma japonicum betina akan menguji telur dengan
memukulnya menggunakan antenna, menggerek masuk ke dalam telur inang dengan ovipositornya
dan meletakkan satu atau lebih telur tergantung ukuran telur inang.
III. KESIMPULAN
Adapun
kesimpulan dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
1.
Lebih dari 80%
total hewan di muka bumi ini adalah serangga.
2. Pengendalian secara hayati
dapat dilakukan dengan menggunakan musuh alami.
3. Telenomus,
Rachonotus, Elasmus, Apanteles, Trichogamma merupakan parasitoid yang berperan sebagai musuh
alami hama.
4. Apanteles
sp. merupakan musuh alami yang berupa parasitoid larva.
DAFTAR
PUSTAKA
Canama, S. 2002. Rayap dan
Peranannya.Dalam: Serangga Taman
Nasional Gunung Halimun Jawa Bagian Barat. Biodiversity Conservation
Project. LIPI.51-62.
Endah, J Nopisan. 2005. Mengendalikan
Hama dan Penyakit Tanaman. Agromedia Pustaka. Jakarta.
IPM. 2009.
Natural Enemy Information, Parasitoid. www.jnkvv.nic.In /IPM%20Project
/natural_ enemy1.html.
Diakses 7 November 2016. Pukul
19.35 WIB.
Sudarmo,
subiyakto. 1995. Pengendalian Hama dan
Gulma Pada Tanaman Perkebunan. Kanius. Yogyakarta.
LAMPIRAN





Comments
Post a Comment