PENGAMATAN GEJALA DAN REISOLASI
PATOGEN
TUMBUHAN (POSTULAT KOCH III)
(Laporan Praktikum
Bioekologi Penyakit Tumbuhan)
Oleh
Muhammad Asifa Ussudur
1514121169
Kelompok 4
JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2016
I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertanian erat hubungannya dengan budidaya tanaman. Budidaya
tanaman tidak selalu berjalan dengan mudah. Budidaya tanaman banyak terganggu
oleh adanya patogen yang menyebabkan penyakit pada tanaman budidaya. Penyakit
pada tanaman akan merugikan para pembudidaya sehingga dapat menyebabkan
penurunan hasil.
Patogen dari satu tanaman dapat menimbulkan gejala yang berbeda-beda
dari satu tanaman dan tanaman lainnya. Tanaman yang terserang penyakit dapat diidentifikasi
dari patogen penyebabnya melalui gejala yang ditimbulkannya. Salah satu cara
untuk mengidentifikasi penyakit dengan menggunakan metode postulat koch, metode
ini menentukan kriteria yang diperlukan untuk membuktikan bahwa mikroba
spesifik merupakan penyebab penyakit tertentu.
Postulat Koch ini hanya dapat
digunakan dalam pembuktian jenis patogen yang bersifat tidak parasit obligat.
Parasit obligat adalah parasit yang tidak dapat hidup tanpa ada inangnya. Oleh
karena inilah, patogen parasit obligat tidak dapat dibiakan dalam laboratorium
(Parry,
D., 1990).
Untuk mendapatkan patogen yang
menyerang tanaman maka perlu dilakukannya isolasi. Terkadang sulit untuk
membedakan antara patogen yang tumbuh dan kontaminan. Karena akibat
ketidaksterilan dalam melakukan isolasi menyebabkan tumbuhnya kontaminan.
Sehingga untuk memisahkan antara patogen dan kontaminan dilakukan reisolasi.
Dengan melakukan reisolasi akan diperoleh kultur murni dari patogen.
Postulat Koch III ini dapat
membuktikan bahwa hasil inokulasi jika direisolasi pada tanaman sehat akan
menghasilkan gejala penyakit yang sama dengan tanaman yang telah terkena
penyakit. Praktikum kali ini akan mereisolasi bagian tumbuhan cabai diambil bagiannya dari yang sakit ke bagian yang masih sehat.
1.2 Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1.
Mengetahui
hasil inokulasi patogen secara buatan.
2.
Mengamati
gejala penyakit akibat inokulasi patogen secara buatan.
3.
Melakukan
reisolasi patogen.
II.
METODOLOGI PERCOBAAN
2.1 Alat dan Bahan
Adapun
alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut, laminar air flow, silet, jarum ose,
pembakar Bunsen, tisu, mikroskop majemuk, kaca preparat, jarum pentul, sedotan,
tisu, nampan, plastic warp, lem
isolasi, spatula, hansprayer, rotamixer,
gelas ukur, Erlenmeyer, cawan petri.
Sedangkan
bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah media PSA, alkohol 70%, bagian
tanaman yang bergejala, dan PSA.
1.3 Cara Kerja
Pada
praktikum kali ini, praktikan melakukan percobaan sebagai berikut :
1. Dilakukan
disinfeksi tempat meja kerja praktikum dengan alkohol 70%.
2. Dilakukan
disinfeksi pada permukaan bagian tanaman yang akan diambil, untuk jaringan
tebal dilap dengan alkohol 70%, lakukan pemotongan pada perbatasan daerah yang
sakit dan sehat.
3.
Untuk
jaringan yang tipis, sediakan tiga cawan petri steril, cawan 1 diisi dengan air
steril, cawan 2 diisi dengan larutan klorok 0,5%, cawan 3 diisi air steril.
4. Dipotong
bagian tanaman pada perbatasan daerah yang sakit dan sehat ( + 0,5 cm2 ),
kemudian dimasukkan ke dalam cawan 1 selama 30 detik, lalu dimasukkan kecawan 2
selama 2 menit, lalu dimasukkan kedalam cawan 3 selama 30 detik. Setelah itu
dikeringkan dengan cara diletakkan diatas tisu.
5. Untuk
penyakit yang disebabkan oleh jamur, dipotong langsung dimasukkan kedalam media
PDA (cara penanaman jaringan). Untuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri,
potongan tadi dimasukkan kedalam air steril 10 ml, dihomogenkan lalu
suspensinya digoreskan pada media PDA dengan menggunakan jarum ose (cara pengengenceran).
6. Pengamatan
dilakukan setiap hari dengan dicatat mulai tumbuhnya jamur ataupun bakteri yang
diisolasi, warna koloni, gambar/foto bentuk koloni.
7. Pada
pekan depan praktikum, dilakukan pengamatan secara mikroskopis untuk melihat
morfologi jamur yng tumbuh dalam media cawan.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Data
Pengamatan
Adapun data pengamatan yang dilakukan adalah sebagau
berikut.
|
No
|
Gambar
|
Keterangan
|
|
1.
|
|
Reisolasi pada hari pertama gejala yang ada pada
hasil inokulasi direisolasi dengan dilukai.
|
|
2.
|
|
Reisolasi pada hari pertama gejala yang ada pada
hasil inokulasi direisolasi dengan tidak dilukai
|
|
3.
|
|
Pengamatan hari terakhir tidak menunjukkan gejala
maupun tanda yang terlihat pada reisolai yang dilukai.
|
|
4.
|
|
Pengamatan hari terakhir tidak menunjukkan gejala
maupun tanda yang terlihat pada reisolai yang tidak dilukai.
|
3.2
Pembahasan
Dari data pengamatan
yang telah dilakukan maka hasil reisolasi yang telah dilakukan tidak
menunjukkan adanya gejala dan tanda penyakit pada hari terakhir. Hal ini
menunjukkan tidak adanya struktur patogen yang berhasil direisolasi. Gejala
yang muncul pada inokulasi diambil dan diisolasi kembali (reisolasi) dan pada
hasil inokulsi tersebut tidak menunjukkan adanya tanda penyakit yang muncul.
Hal yang seperti inilah yang membuat percobaan ini tidak dikatakan berhasil
karena gejala dan tanda tidak terlihat jelas.
Perbandingan
antara gejala awal dengan hasil reisolasi menunjukan perbedaan pada gejala
penyakitnya. Pada gejala penyakit hasil inokulasi masih terlihat walaupun tidak
cukup jelas, namun pada hasil reisolasi tidak menunjukkan gejala yang timbul
akibat inokulasi patogen tersebut. Hal ini karena faktor praktikan yang tidak
tepat mengambil bagian yang bergejala atau dikarenakan faktor lingkungan yang
mengakibatkan patogen tersebut terkontaminasi atau tidak dapat tumbuh dengan
baik.
Postulat Koch merupakan salah satu
metode yang dapat dilakukan untuk membuktikan penyebab suatu penyakit. Metode
yang diperkenalkan oleh Robert Koch(1884) ini memiliki empat syarat yang harus
dipenuhi untuk dapat membuktikan suatu patogen apakah benar-benar dapat
menimbulkan penyakit pada inangya atau tidak. Semua dari syarat tersebut harus
terpenuhi untuk dapat menentukan hubungan keterkaitan antara patogen penyebab
penyakitdan inangnya. Sejarahnya Robert Koch menerpakan metode ini untuk
menentukan tuberkulosis dan etiologi antraks, namun sekarang telah diujikan
pada berbagai jenis penyakit (Semangun, 2004).
Ada empat ketentuan di postulat Koch, yaitu :
1.
Mikroorganisme tertentu yang dicurigai harus selalu
dijumpai berasosiasi dengan organisme yang sakit
2. Mikroorganisme
yang dicurigai tersebut harus dapat dipisahkan (diisolasi) dari organisme sakit
dan dibiakkan menjadi biakan murni di laboratorium.
3. Biakan murni
mikroorganisme yang dicurigai, akan menimbulkan penyakit yang sama jika dengan
sengaja ditularkan (diinokulasikan) kepada organisme sejenis yang rentan
(susceptible)
4. Dengan
menggunakan prosedur laboratorium, mikroorganisme yang sama harus dapat
diperoleh dari organisme rentan yang sakit karena sengaja ditulari (Agrios,
2005).
Adapun lang kah kerja pada Postulat
koch adalah sebagai berikut::
1.
Patogen harus selalu didapatkan berasosiasi dengan tanaman sakit.
2.
Patogen dari tanaman sakit harus dapat diisolasi dan ditumbuhkan pada media
biakan murni.
3.
Patogen yang tumbuh pada biakan murni harus dapat direinokulasikan dan
ditumbuhkan pada tanaman yang sakit terdahulu.
4.
Patogen pada tanaman sakit akibat reinokulasi harus dapat direisolasi dan dapat
ditumbuhkan pada biakan murni.
Reisolasi
penting karena untuk dapat menentukan apakah tanaman hasil inokulasi dapat
direisolasi dan ditumbuhkan di media biakan murni. Apabila hal tersebut
terpenuhi maka hal ini telah memenuhi dari syarat langkah kerja pada Postulat
Koch ini.
Struktur
mikroskospis yang terdapat pada hasil inokulasi didapatkan hasil yaitu bentuk
dari spora jamur Colletorichum gleosporioides pada
pengamatan mikroskopis dengan mengambil hasil inokulasi dari percobaan metode
Postulat Koch III tentang reisolasi diamati dengan mikroskop. Hasil dari
reisolasi diambil spora dari patogen yang menunjukkan adanya tanda penyakit dan
diamati dibawah mikroskop dari kelompok lain. Hasil dari kelompok kami tidak
menunjukkan adanya tanda penyakitnya dengan hal tersebut maka mengambil
hasildari inokulasi kelompok lain. Bentuk dari spora yang diamati di bawah
mikroskop yaitu lonjong sperti bulir padi. Hal ini menunjukkan bahwa patogen
yang menyerang yaitu jamur Colletorichum
gleosporioides (Semangun, H. 2004).
IV.
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari
praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1.
Hasil inokulasi menunjukkan adanya gejala
penyakit dan tidak terdapat tanda penyakitnya.
2.
Gejala penyakit hasil reisolasi tidak
dapat terlihat jelas atau tidak menunjukkan adanya gejala.
3.
Resolasi patogen diambil dari hasil
inokulasi dan patogen pada
tanaman sakit akibat reinokulasi harus dapat direisolasi dan dapat ditumbuhkan
pada biakan murni.
DAFTAR PUSTAKA
Agrios, G.N. 2005.
Plant Patology. 5th ed.
Elservier Academic Press, Burlington, MA, USA. 922 pp
Parry, D. 1990. Plant Patokogy in Agriculture. Cambrigde
University Press, Cambrigde. 385 pp.
Semangun,
H. 2004. Penyakit-penyakit Tanaman
Hortikultura di Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogykarta. 754 hlm
LAMPIRAN
Comments
Post a Comment